Perusahaan pelayaran samudra PT. Mentari Sejati Perkasa menambah 500 unit kontainer ukuran 20 feet yang didatangkan dari China untuk meningkatkan fasilitas dan daya saing perusahaan.
“500 kontainer yang kami pesan dari China itu sebagian sudah tiba di Surabaya dan sudah kami gunakan,” kata dr. Soenardi Sudartan, President Director PT. Mentari Sejati Perkasa (MSP) saat ditemui di ruang kerjanya di Jl. Perak Barat, Surabaya.
Perusahaan pelayaran samudra yang mengoperasikan armadanya ke lintasan Gorontalo, Ternate, Tobelo, Luwuk, Sorong, Jakarta dan Surabaya itu menambah fasilitas kontainer sejalan dengan program pengembangan armada yang dilakukan.
Tahun ini, kata Soenardi, perusahaan yang dipimpinnya juga merencanakan untuk membuka rute baru. Menurutnya, rute baru yang akan dilayari armada milik MSP merupakan daerah penghasil komoditas perkebunan dengan potensi angkutan yang cukup baik.
“Selama ini belum ada perusahaan pelayaran ke daerah itu. Kami berkomitmen untuk menyinggahi daerah tersebut karena potensi angkutan di daerah itu yang terdiri atas komoditas perkebunan seperti kopra, cengkih, dan pala cukup besar, namun daerah itu belum ada fasilitas terminal kontainernya. Bupati daerah itu sangat mendukung kami agar segera masuk ke daerahnya,” kata Soenardi yang enggan menyebutkan rute baru yang dimaksud dengan alasan realisasi pembukaan rute itu masih menunggu fasilitas pendukung di pelabuhan.
Pembukaan rute baru ke daerah perintis memang tidak mudah untuk dilakukan. Selain memperhitungkan potensi komoditas yang akan diangkut, kendala fasilitas pun harus melakukan investasi khusus guna menunjang kegiatan bongkar muat. Karena itu berdasarkan besarnya investasi yang harus ditanggung perusahaan pelayaran yang mempelopori pembukaan rute ke suatu daerah, sudah selayaknya mendapat dukingan kebijakan dari pemerintah setempat.
“Kalau MSP membuka rute baru sudah sewajarnya MSP mendapatkan perlindungan dari pemerintah untuk beberapa tahun lamanya. Tujuannya agar jangan sampai terjadi, kami yang membuka rute dengan investasi besar, begitu buka tiba-tiba operator pelayaran lainnya masuk begitu saja. Karena itu kami mengharapkan ada perlindungan investasi yang sudah kami tanamkan.”
Kelangkaan
Soenardi menambahkan, untuk mendapatkan tambahan kontainer dalam negeri sesuai jumlah yang dibutujkan tidak mudah. Itu akibat kelangkaan pengadaan kontainer di dalam negeri. Di Surabaya, lanjut Soenardi, ada pabrikan pembuat kontainer. Akan tetapi pabrikan yang dimaksud berada dalam kawasan berikat dimana seluruh produksinya hanya ditujukan untuk ekspor.
Untuk mengatasi kesulitan pengadaan kontainer di dalam negeri, MSP pun melakukan pembelian ke China. Harga per unit kontainer ukuran 20 feet itu US $2650 atau sekitar RP24,5 juta per unit.
Dengan tambahan 500 kontainer itu secara keseluruhan kontainer MSP berkapasitas 4000 twenty-foot equivalent units (TEU's). Jumlah itu akan mencover seluruh muatan yang ada di rute yang dilintasi armada MSP. Potensi angkutan perusahaan pelayaran ini akan meningkat dengan pertambahan armada yang dilakukan di sektor angkutan kontainer.
Sebagaimana diketahui, MSP tahun ini mengembangkan armadanya. Tidaknya untuk angkutan kontainer tapi juga untuk angkutan curah kering seperti batu bara. Untuk itulah MSP telah membentuk sebuah perusahaan baru yang bermitra dengan sebuah perusahaan kuasa pertambangan batu bara.
Angkutan batu bara yang dioperasikan oleh anak perusahaan MSP itu nantinya akan memasok kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik Suralaya, Banten.
***Dikutip dari: Media Bandar No. 37/Agustus 2008 halaman 13***