Industri Perkapalan ubah strategi produksi

 

Industri Perkapalan ubah strategi produksi

Imbas tingginya permintaan pembangunan kapal di dalam negri dirasakan juga oleh perusahaan-perusahaan pelayaran yang sedang mengupayakan penambahan armada.

Dr. Soenardi Sudartan, President Director PT. Mentari Sejati Perkasa (MSP) sebuah perusahaan pelayaran samudra yang berbasis di Surabaya misalnya, sejak beberapa bulan ini mencoba untuk mendapatkan tambahan armada yang akan dioperasikan perusahaannya di dalam negri. Namun, sejauh ini keinginan itu sulit didapatkan.

"Membangun kapal baru sulit mendapatkan perusahaan galangan karena hampir semua galangan sedang berproduksi memenuhi order. Sedangkan kapal-kapal bekas juga sulit karena tidak ada perusahaan broker resmi yang diakui undang-undang. Alternatifnya, kami mencoba mendapatkan tambahan kapal dari pasar luar negri. Misalnya lewar bursa broker singapura atau langsung memesannya dari galangan kapali di China."

Soenardi mencontohkan, beberapa bulan lalu perusahaannya mendapatkan informasi adanya sebuah kapal yang akan dijual di jakarta dan Batam. Namun setelah ditelusuri, ternyata kapal yang disebutkan itu tidak ada, semacam penawaran fiktif. MSP mengalokasikan penambahan 4 kapal guna memenuhi peningkatan arus barang di rute-rute yang mereka lalui di Jakarta dan Surabaya ke berbagai daerah di kawasan Indonesia Timur dan sebaliknya.

Sebagai perusahaan pelayaran feeder, MSP melakukan ekspansi hingga ke pelabuhan-pelabuhan perintis di Indonesia Timur. Investasi yang dikeluarkan pun lebih besar karena harus menyediakan peralatan bongkar muat sendiri karena di beberapa pelabuhan yang disinggahi tidak tersedia peralatan yang memadai.

"Ini sebuah tantangan dalam pengembangan bisnis ke daerah-daerah yang bisa dikategorikan sebagai pelabuhan perintis. Karena itu Pemerintah Daerah sudah seharusnya memacu pengembangan infrastruktur pelabuhan agar arus kunjungan kapal dan kelancaran bongkar muat bisa terjamin. Imbasnya tentu percepatan pengembangan perekonomian daerah."

 ***Dikutip dari: Marine Business No. 2/June 2008 halaman 35-37***